Manusia
menurut Plato
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah:
Filsafat
manusia
Dosen
pengampu:
Bpk
risqon hamami M.Fil

Disusun
oleh:
Fita
sukmawati (2832133012)
Semester
IX
JURUSAN
FILSAFAT AGAMA
FAKULTAS
UAD
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
TAHUN
AJARAN 2014/2015
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan
kehadirat Alloh SWT.Karena atas karunia-Nya semata, kami dapat menyelesaikan
makalah ini, yang diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
FILSAFAT MANUSIA.
Terselesaikannya
makalah ini tidak lepas dari peran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami
menyampaikan terima kasih banyak kepada:
- Dr. Maftukhin, M.Ag. selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri Tulungagung yang telah memberikan kesempatan untuk kami menimba ilmu di IAIN Tulungagung ini.
- Risqon hamami M.Fil selaku dosen pembimbing mata kuliah FILSAFAT MANUSIA. yang telah membimbing dan mengarahkan kami dalam proses belajar mengajar.
- Orang tua dan teman – teman yang selalu mendukung dan membantu kami dalam penyelesaian salah satu tugas mata kuliah ini.
Semoga Allah SWT berkenan mencatatnya sebagai
amal sholeh.kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun
untuk menyempurnakan makalah ini.Dan kami berharap semoga makalah ini dapat
berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin
Tulungagung, Maret2015
Penulis
Daftar isi
Halaman
sampul…………………………………………………………………..
Kata pengantar…………………………………………………………………….
Daftar isi………………………………………………..………………………….
Bab I :PENDAHULUAN……..……………………………………………………
A.
Latar belakang ………………………………………………………………
B.
Rumusan masalah…………………………………………………………..
C.
Tujuan……………………..………………………………………………….
Bab II :PEMBAHASAN…………………………………………………………..
A.
Filsafat manusia………….………………………………………………….
B.
Filsafat manusia dalam perspektif
plato……………………………………
Bab
III :PENUTUP…………………………………………………………………
A.
Kesimpulan………………………………………………………………….
B.
Saran………………………………………………..……………………….
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Filsafat manusia adalah salah satu cabang dari
filsafat itu sendiri.Seperti halnya etika, kosmologi, dan lainnya. Namun secara
ontologis filsafat ini memiliki keduduan yang relative lebih penting, karena
semua cabang filsafat filsafat tersebut bermuara pada persoalan manusia, yang
tidak lain merupakan persoalan yang menjadi objek kajian filsafat manusia.
Filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia ini
memiliki kedudukan yang hampir sama
karena jika ditinjau dari objek materialnya keduanya berobyek pada gejala
manusia. Keduanya juga memiliki tujuan yang sama pula, yaitu bertujuan untuk
menyelidiki menginterpretasi dan memahami gejala gejala manusia. Akan tetapi
jika ditinjau dari objek formalnya filsafat manusia ini tidak membatasi diri
pada gejala empiris. Segala bentuk
gejala apapun tentang manusia, sejauh bisa dipikirkan bisa menjadi bahan kajian
filsafat manusia.Karena luasnya objek kajian manusia yang diselidiki oleh
filsafat manusia maka tidak mungkin dia menggunakan metode yang bersifat
observasional atau eksperimental. Karena kedua metode itu hanya bisa dilakukan jika gejalanya dapat diamati,
diukur dan dapat dimanipulasi. Sedangkan aspek atau dimensi metafisik,
spiritual, dan universal hanya bisa diselidiki dengan menggunakan metode yang
lebih spesifik lagi.
B.
Rumusan
masalah.
1. Apa
yang dimaksud dengan filsafat manusia?
2. Bagaimana
filsafat manusia menurut plato?
C. Tujuan.
1. Mengetahui
tentang filsafat manusia.
2. Mengetahui
filsafat manusia menurut plato.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Filsafat
manusia
Titik tolak dalam filsafat manusia adalah bertolak
dari pengetahuan dan pengalaman manusia, serta dunia yang secara wajar ada pada
setiap individu yang dimiliki oleh semua orang secara bersama-sama, yang dari
situlah sang ilmuan membangun ilmunya, sang seniman menciptakan karyanya, sang
ahli sejarah menelusuri waktu yang telah
silam, dan ahli teologi menafsirkan sabda ilahi.[1]
Drs. Surajiyo dalam bukunya yang berjudul ilmu
filsafat suatu pengantar. Louis leahy
mengatakan bahwa Obyek material filsafat
manusia adalah manusia itu sendiri, sedangkan obyek formalnya adalah inti dari
manusia., alam kodratnya dan strukturnya yang bersifat fundamental. Maksud
struktur fundamental itu sama sekali bukan sesuatu yang bersifat fisik, bukan
sesuatu yang dapat dirasakan, bukan apa-apa yang dapat digambarkan. Ia hanya
dapat diketahui melalui usaha dan daya pikir saja. Ia bukan suatu bagian
atau potongan dari manusia, juga bukan
merupakan alat yang kiranya tersembunyi didalam organisme. Dengan kata lain apa
yang ingin diketahui dalam filsafat manusia adalah struktur metafisikanya yang
tanpanya maka manusia itu tidak dapat difikirkan.[2]
Apabila dalam filsafat digambarkan bahwa manusia
terbentuk dari badan dan jiwa, maka itu tidak berarti jika badan dan jiwa itu
merupakan suatu hal yang seakan akan terdiri atas dua hak yang kemudian
dihubungkan secara bersama-sama. Jadi filsafat manusia adalah bagian dari
filsafat yang secara kusus membahas tentang hakikat dari manusia.[3]
Menurut Gabriel marcel, manusia bukanlah problema
yang akan habis dipecahkan, melainkan misteri yang tidak mungkin disebutkan
sifat dan cirinya secara tuntas karena harus dipahami dan dihayati.[4]
Secara sederhana bisa disebutkan bahwasanya manusia
itu terdiri dari dua aspek yang esensial, yakni tubuh dan jiwa. Karena adanya
persoalan yang memperselisihkan mana diantara yang lebih penting disini,
tubuhatau jiwa?.Dengan begitu kemudioan muncullah beberapa aliran.
1. Materialism.
Aliran
ini berpendapat bahwasanya yang penting adalah tubuh manusia karena jiwa dalam
tubuh merupakan masalah yang kurang penting, karena jiwa hanya menumpang saja
dalam tubuh.Karena menurut aliran ini sesuatu yang disebut nyata ialah sesuatu
yang bisa diindrakan.
2. Spiritualisme.
Aliran
ini berpendapat bahwa yang terpenting adalah
jiwanya.menurutnya jiwa ini lebih agung daripada badan. Karena jiwa telah ada
dialam atas sebelum kemudian masuk ke dalam badan.
3. Aliran
dualism.
Aliran
ini berpendapat, bahwasanya diantara keduanya sama-sama pentingnya.Rene
Descartes berpendapat bahwa jiwa itu adalah subtansi berpikir, sedangkan badan
sebagai subtansi yang berkeluasan.Hubungan jiwa dan badan bukanlah sesuatu yang
ditambahkan, melainkan sesuatu yang hakiki. Karenanya tidak akan menjadi satu
kesatuan insan yang utuh jika salah satu dari kedua unsur ini tidak ada.
B.
Manusia
menurut plato
Plato
berpendapat bahwasanya ada dua hal yang utama dalam manusia yaitu jiwa dan
tubuh.tapi keduanya ini merupakan dua kenyataan yang harus dibedakan dan
dipisahkan. Jiwa berdiri sendiri jiwa adalah sesuatu yang adikodrati, yang
berasal dari dunia ide.Oleh kerenanya dia bersifat kekal dan tidak dapat mati.[5]
Tidak
seperti Socrates yang mengatakan bahwa jiwa itu merupakan satu asas tunggal,
plato membaginya menjadi tiga bagian. Yang pertama rasional yang dihubungkan
dengan kebijaksanaan yang dapat mengendalikan kepada rasa yang lebih rendah
seperti nafsu.Kedua kehendak yang dihubungkan dengan kegagahan.Yang ketika
keingingan yang dihubungkan dihubungkan dengan nafsu.[6]
Plato
percaya bahwa jiwa itubharus dilepaskan dengan cara berusaha mendapatkan
pengetahuan untuk melihat ide-ide. Plato juga percaya bahwa ada pra-eksistensi
jiwa dan jiwa itu tidak dapat mati.Dalam tubuh jiwa terbelenggudan untuk
melepas jiwa dari tubuh hanya sedikit saja orang yang berhasil mencapai
pengetahuan dan mengalami ide-ide.Karena sikap yang ke-tubuh-an inilah yang
membuatnya sulit mencapainya.
Ada
sebuah mitos yang digambarkan oleh plato yang diperuntukkan untuk memudahkan
kita memahami tentang jawa dan tubuh. Plato melukiskan manusia itu bagai
orang-orang tawanan yangdibelenggu ditengah-tengah sebuah gua,dengan wajah
mereka yang menghadap pada dinding gua. Sementara diluar gua ada api unggun
yang sinarnya sampai ke dalam gua dan diluar itu pula ada banyak orang yang
lewat. Secara otomatis cahaya api unggun itu membuat bayangan pada dinding gua,
tentu saja para tawanan tadi melihat bayangan tadi. Para tawanan itupun selama
hidupnya hanya melihat bayangan, dan mereka menganggap bahwa itulah kenyataan
hidup.Pada suatu hari salah seorang tawanan itu ada yang dibebaskan dan
dibolehkan untuk melihat kebelakang keluar gua. Akhirnya seorang tawanan itu
tahu bahwa yang selama ini dilihat
adalah bayangan belaka. Tawanan itupun menyadari bahwa kenyataan yang baru saja
dilihat ternyata jauh lebih indah daripada bayangan.Lalu tawanan yang memiliki
pengalaman dan menyadari bahwa kenyataan diluar lebih indah itu menceritakan
kepada para tawanan lainnya.Diluar dugaan mereka tidak percaya danmalah
membunuh tawanan yang bercerita.[7]
Begitu
sulitnya untuk keluar dari belenggu tubuh, oleh karena itu paling tidak menurut
plato, orang harus berusaha untuk memperoleh pengetahuan
sebanyak-banyaknyatentang kenyataan dan ide-ide. Hal ini juga berarti plato
tidak menyuruh untuk lari dari dunia, tetapi hal yang sempurna tidak akan
didapatkan didiunia ini. Oleh karenanya usah untuh memperoleh hal yang terbaik
didunia manusia.[8]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Aliran
spiritualisme berpendapat bahwasnya yang terpenting pada diri manusia adalah
jiwa.Plato berpendapat bahwa jiwa itu lebih agung daripada badan.Karena jiwa
telah jauh ada dialam ide sebelum masuk kebadan. Dan kemudian jiwa menjadi
terikat setelahya.namun kemudian jiwa harus terlepas dari keterbelengguannya terhadap badab demi kemurniannya sehingga
sehingga badan menjadi penghalang bagi jiwa.
B. Daftar pustaka
Drs.
Surajiyo. Ilmu filsafat suatu pengantar.
Ikrar mandiriabadi:Jakarta 2012
Abiding,zainal.filsafat manusiaPT. REMAJA ROSDAKARYA:
bandung 209
Delfgaauw,Bernard.sejarah
ringkas filsafat barat. Penerjemah: soejono soemargono. PT. TIARA WACANA
yogya:Yogyakarta 1992
Aprillins.co./2009/267/filsafat-plato-ide-pengenala-jiwa-dan-rga/.
Diakses 26 maret 2015
[1] Louis leahy, 1984, hlm.13-14
[2]Drs. Surajiyo ilmu filsafat suatu
pengantar (ikrar mandiriabadi, Jakarta2008) hal. 127
[3] ibid
[4] Louis leahy, 1984
[5]
Hadiwijono, 43:2005
[6]
Delfgauw, 25:1992
[7]
Aprillins.com/2009/267/filsafat-plato—ide-pengenalan-jiwa-dan-raga/. Diakses 26
maret 2015
[8]
Ibid
Sebelumnya minta maaf, saya akan sedikit mengoreksi dan memberi masukan terhadap hasil tugas yang telah saudari postingkan. pertama mengenai pemostingan masih ada yang belum tertata rapih atau murat marit yakni pada bagian daftar isi, dan juga adanya space yang renggang antar halaman. kedua mengenai materi yang telah dipaparkan dalam makalah saudari. Dalam bagian pemikirannya plato dituliskan bahwa Plato berpendapat bahwasanya ada dua hal yang utama dalam manusia yaitu jiwa dan tubuh. akan tetapi saudari hanya baru memaparkan tentang jiwanya saja sedangkan bagian tubuhnya belum. kemudian saya mau bertanya, dalam makalah saudari dituliskan bahwa Plato percaya bahwa ada pra-eksistensi jiwa, nah yang dimaksud dengan pra-eksistensi jiwa itu seperti apa dan bagaimana?
BalasHapusDan juga sedikit masukan untuk nama dosen pengampunya mohon dikoreksi kembali, seharusnya Dr. A. Rizqon Hamami, Lc. MA.
BalasHapussebelum masuk dalam pertanyaan, saya menyarankan kepada saudari untuk melakukan editing sebelum diposting, insya allah jika editing bagus, makalah akan enak dibaca. kemudian yang mau saya tanyakan adalah siapa saja tokoh-tokoh dalam aliran materialism, spiritualism dan dualism yang saudari paparkan diatas? kemudian apabila manusia sudah mendapatkan pengetahuan yang banyak apakah sudah bisa dipastikan sudah tidak terbelenggu lagi? dan kemudian bagaimana posisi jiwa dan tubuh manusia setelah manusia mati?
BalasHapus