Senin, 30 Maret 2015



Manusia menurut Plato
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah:
Filsafat manusia
Dosen pengampu:
Bpk risqon hamami M.Fil
Disusun oleh:
Fita sukmawati (2832133012)
Semester IX
JURUSAN FILSAFAT AGAMA
FAKULTAS UAD
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
TAHUN AJARAN 2014/2015




KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Alloh SWT.Karena atas karunia-Nya semata, kami dapat menyelesaikan makalah ini, yang diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah FILSAFAT MANUSIA.
            Terselesaikannya makalah ini tidak lepas dari peran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami menyampaikan terima kasih banyak kepada:
  1. Dr. Maftukhin, M.Ag. selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri Tulungagung yang telah memberikan kesempatan untuk kami menimba ilmu di IAIN Tulungagung ini.
  2. Risqon hamami M.Fil selaku dosen pembimbing mata kuliah FILSAFAT MANUSIA. yang telah membimbing dan mengarahkan kami dalam proses belajar mengajar.
  3. Orang tua dan teman – teman yang selalu mendukung dan membantu kami dalam penyelesaian salah satu tugas mata kuliah ini.
Semoga Allah SWT berkenan mencatatnya sebagai amal sholeh.kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah ini.Dan kami berharap semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin

Tulungagung, Maret2015


Penulis



Daftar isi
Halaman sampul…………………………………………………………………..
Kata pengantar…………………………………………………………………….
Daftar isi………………………………………………..………………………….
Bab I :PENDAHULUAN……..……………………………………………………
A.   Latar belakang ………………………………………………………………
B.   Rumusan masalah…………………………………………………………..
C.   Tujuan……………………..………………………………………………….
Bab II :PEMBAHASAN…………………………………………………………..
A.   Filsafat manusia………….………………………………………………….
B.   Filsafat manusia dalam perspektif plato……………………………………
Bab III :PENUTUP…………………………………………………………………
A.   Kesimpulan………………………………………………………………….
B.   Saran………………………………………………..……………………….











BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Filsafat manusia adalah salah satu cabang dari filsafat itu sendiri.Seperti halnya etika, kosmologi, dan lainnya. Namun secara ontologis filsafat ini memiliki keduduan yang relative lebih penting, karena semua cabang filsafat filsafat tersebut bermuara pada persoalan manusia, yang tidak lain merupakan persoalan yang menjadi objek kajian filsafat manusia.
Filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia ini memiliki kedudukan yang  hampir sama karena jika ditinjau dari objek materialnya keduanya berobyek pada gejala manusia. Keduanya juga memiliki tujuan yang sama pula, yaitu bertujuan untuk menyelidiki menginterpretasi dan memahami gejala gejala manusia. Akan tetapi jika ditinjau dari objek formalnya filsafat manusia ini tidak membatasi diri pada  gejala empiris. Segala bentuk gejala apapun tentang manusia, sejauh bisa dipikirkan bisa menjadi bahan kajian filsafat manusia.Karena luasnya objek kajian manusia yang diselidiki oleh filsafat manusia maka tidak mungkin dia menggunakan metode yang bersifat observasional atau eksperimental. Karena kedua metode itu hanya  bisa dilakukan jika gejalanya dapat diamati, diukur dan dapat dimanipulasi. Sedangkan aspek atau dimensi metafisik, spiritual, dan universal hanya bisa diselidiki dengan menggunakan metode yang lebih spesifik lagi.
B.     Rumusan masalah.
1.      Apa yang dimaksud dengan filsafat manusia?
2.      Bagaimana filsafat manusia menurut plato?
C.     Tujuan.
1.      Mengetahui tentang filsafat manusia.
2.      Mengetahui filsafat manusia menurut plato.





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Filsafat manusia
Titik tolak dalam filsafat manusia adalah bertolak dari pengetahuan dan pengalaman manusia, serta dunia yang secara wajar ada pada setiap individu yang dimiliki oleh semua orang secara bersama-sama, yang dari situlah sang ilmuan membangun ilmunya, sang seniman menciptakan karyanya, sang ahli sejarah menelusuri  waktu yang telah silam, dan ahli teologi menafsirkan sabda ilahi.[1]
Drs. Surajiyo dalam bukunya yang berjudul ilmu filsafat suatu pengantar.  Louis leahy mengatakan  bahwa Obyek material filsafat manusia adalah manusia itu sendiri, sedangkan obyek formalnya adalah inti dari manusia., alam kodratnya dan strukturnya yang bersifat fundamental. Maksud struktur fundamental itu sama sekali bukan sesuatu yang bersifat fisik, bukan sesuatu yang dapat dirasakan, bukan apa-apa yang dapat digambarkan. Ia hanya dapat diketahui melalui usaha dan daya pikir saja. Ia bukan suatu bagian atau  potongan dari manusia, juga bukan merupakan alat yang kiranya tersembunyi didalam organisme. Dengan kata lain apa yang ingin diketahui dalam filsafat manusia adalah struktur metafisikanya yang tanpanya maka manusia itu tidak dapat difikirkan.[2]
Apabila dalam filsafat digambarkan bahwa manusia terbentuk dari badan dan jiwa, maka itu tidak berarti jika badan dan jiwa itu merupakan suatu hal yang seakan akan terdiri atas dua hak yang kemudian dihubungkan secara bersama-sama. Jadi filsafat manusia adalah bagian dari filsafat yang secara kusus membahas tentang hakikat dari manusia.[3]
Menurut Gabriel marcel, manusia bukanlah problema yang akan habis dipecahkan, melainkan misteri yang tidak mungkin disebutkan sifat dan cirinya secara tuntas karena harus dipahami dan dihayati.[4]
Secara sederhana bisa disebutkan bahwasanya manusia itu terdiri dari dua aspek yang esensial, yakni tubuh dan jiwa. Karena adanya persoalan yang memperselisihkan mana diantara yang lebih penting disini, tubuhatau jiwa?.Dengan begitu kemudioan muncullah beberapa aliran.
1.      Materialism.
Aliran ini berpendapat bahwasanya yang penting adalah tubuh manusia karena jiwa dalam tubuh merupakan masalah yang kurang penting, karena jiwa hanya menumpang saja dalam tubuh.Karena menurut aliran ini sesuatu yang disebut nyata ialah sesuatu yang bisa diindrakan.
2.      Spiritualisme.
Aliran ini berpendapat bahwa yang terpenting adalah jiwanya.menurutnya jiwa ini lebih agung daripada badan. Karena jiwa telah ada dialam atas sebelum kemudian masuk ke dalam badan.
3.      Aliran dualism.
Aliran ini berpendapat, bahwasanya diantara keduanya sama-sama pentingnya.Rene Descartes berpendapat bahwa jiwa itu adalah subtansi berpikir, sedangkan badan sebagai subtansi yang berkeluasan.Hubungan jiwa dan badan bukanlah sesuatu yang ditambahkan, melainkan sesuatu yang hakiki. Karenanya tidak akan menjadi satu kesatuan insan yang utuh jika salah satu dari kedua unsur ini tidak ada.
B.     Manusia menurut plato
Plato berpendapat bahwasanya ada dua hal yang utama dalam manusia yaitu jiwa dan tubuh.tapi keduanya ini merupakan dua kenyataan yang harus dibedakan dan dipisahkan. Jiwa berdiri sendiri jiwa adalah sesuatu yang adikodrati, yang berasal dari dunia ide.Oleh kerenanya dia bersifat kekal dan tidak dapat mati.[5]
Tidak seperti Socrates yang mengatakan bahwa jiwa itu merupakan satu asas tunggal, plato membaginya menjadi tiga bagian. Yang pertama rasional yang dihubungkan dengan kebijaksanaan yang dapat mengendalikan kepada rasa yang lebih rendah seperti nafsu.Kedua kehendak yang dihubungkan dengan kegagahan.Yang ketika keingingan yang dihubungkan dihubungkan dengan nafsu.[6]
Plato percaya bahwa jiwa itubharus dilepaskan dengan cara berusaha mendapatkan pengetahuan untuk melihat ide-ide. Plato juga percaya bahwa ada pra-eksistensi jiwa dan jiwa itu tidak dapat mati.Dalam tubuh jiwa terbelenggudan untuk melepas jiwa dari tubuh hanya sedikit saja orang yang berhasil mencapai pengetahuan dan mengalami ide-ide.Karena sikap yang ke-tubuh-an inilah yang membuatnya sulit mencapainya.
Ada sebuah mitos yang digambarkan oleh plato yang diperuntukkan untuk memudahkan kita memahami tentang jawa dan tubuh. Plato melukiskan manusia itu bagai orang-orang tawanan yangdibelenggu ditengah-tengah sebuah gua,dengan wajah mereka yang menghadap pada dinding gua. Sementara diluar gua ada api unggun yang sinarnya sampai ke dalam gua dan diluar itu pula ada banyak orang yang lewat. Secara otomatis cahaya api unggun itu membuat bayangan pada dinding gua, tentu saja para tawanan tadi melihat bayangan tadi. Para tawanan itupun selama hidupnya hanya melihat bayangan, dan mereka menganggap bahwa itulah kenyataan hidup.Pada suatu hari salah seorang tawanan itu ada yang dibebaskan dan dibolehkan untuk melihat kebelakang keluar gua. Akhirnya seorang tawanan itu tahu bahwa  yang selama ini dilihat adalah bayangan belaka. Tawanan itupun menyadari bahwa kenyataan yang baru saja dilihat ternyata jauh lebih indah daripada bayangan.Lalu tawanan yang memiliki pengalaman dan menyadari bahwa kenyataan diluar lebih indah itu menceritakan kepada para tawanan lainnya.Diluar dugaan mereka tidak percaya danmalah membunuh tawanan yang bercerita.[7]
Begitu sulitnya untuk keluar dari belenggu tubuh, oleh karena itu paling tidak menurut plato, orang harus berusaha untuk memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknyatentang kenyataan dan ide-ide. Hal ini juga berarti plato tidak menyuruh untuk lari dari dunia, tetapi hal yang sempurna tidak akan didapatkan didiunia ini. Oleh karenanya usah untuh memperoleh hal yang terbaik didunia manusia.[8]



























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Aliran spiritualisme berpendapat bahwasnya yang terpenting pada diri manusia adalah jiwa.Plato berpendapat bahwa jiwa itu lebih agung daripada badan.Karena jiwa telah jauh ada dialam ide sebelum masuk kebadan. Dan kemudian jiwa menjadi terikat setelahya.namun kemudian jiwa harus terlepas dari keterbelengguannya  terhadap badab demi kemurniannya sehingga sehingga badan menjadi penghalang bagi jiwa.
B.     Daftar pustaka
Drs. Surajiyo. Ilmu filsafat suatu pengantar. Ikrar mandiriabadi:Jakarta 2012
Abiding,zainal.filsafat manusiaPT. REMAJA ROSDAKARYA: bandung 209
Delfgaauw,Bernard.sejarah ringkas filsafat barat. Penerjemah: soejono soemargono. PT. TIARA WACANA yogya:Yogyakarta 1992
Aprillins.co./2009/267/filsafat-plato-ide-pengenala-jiwa-dan-rga/. Diakses 26 maret 2015




[1] Louis leahy, 1984, hlm.13-14
[2]Drs. Surajiyo ilmu filsafat suatu pengantar (ikrar mandiriabadi, Jakarta2008) hal. 127
[3] ibid
[4] Louis leahy, 1984
[5] Hadiwijono, 43:2005
[6] Delfgauw, 25:1992
[7] Aprillins.com/2009/267/filsafat-plato—ide-pengenalan-jiwa-dan-raga/. Diakses 26 maret 2015
[8] Ibid

3 komentar:

  1. Sebelumnya minta maaf, saya akan sedikit mengoreksi dan memberi masukan terhadap hasil tugas yang telah saudari postingkan. pertama mengenai pemostingan masih ada yang belum tertata rapih atau murat marit yakni pada bagian daftar isi, dan juga adanya space yang renggang antar halaman. kedua mengenai materi yang telah dipaparkan dalam makalah saudari. Dalam bagian pemikirannya plato dituliskan bahwa Plato berpendapat bahwasanya ada dua hal yang utama dalam manusia yaitu jiwa dan tubuh. akan tetapi saudari hanya baru memaparkan tentang jiwanya saja sedangkan bagian tubuhnya belum. kemudian saya mau bertanya, dalam makalah saudari dituliskan bahwa Plato percaya bahwa ada pra-eksistensi jiwa, nah yang dimaksud dengan pra-eksistensi jiwa itu seperti apa dan bagaimana?

    BalasHapus
  2. Dan juga sedikit masukan untuk nama dosen pengampunya mohon dikoreksi kembali, seharusnya Dr. A. Rizqon Hamami, Lc. MA.

    BalasHapus
  3. sebelum masuk dalam pertanyaan, saya menyarankan kepada saudari untuk melakukan editing sebelum diposting, insya allah jika editing bagus, makalah akan enak dibaca. kemudian yang mau saya tanyakan adalah siapa saja tokoh-tokoh dalam aliran materialism, spiritualism dan dualism yang saudari paparkan diatas? kemudian apabila manusia sudah mendapatkan pengetahuan yang banyak apakah sudah bisa dipastikan sudah tidak terbelenggu lagi? dan kemudian bagaimana posisi jiwa dan tubuh manusia setelah manusia mati?

    BalasHapus