Masih dengan hati yang malu bercampur takut. pertemuan kedua lalu (18 maret 2015) aku salah sasaran. awalnya aku kira mata kuliah yang diampu oleh bapak ngainun na'im adalah jam kedua, kebetulan hari itu aku harus pergi ke pengadilan guna sidang tilang. akhirnya aku santai saja, jam kedua terlewat aku gak usah bikin resume, eh ternyata jam 10.00 aku sampai dikampus. dengan mata terbelalak sambil membatin "kok pak ngainun yang dari UPB? kok pak abad yang keluar dari lokal U2? terus?". kemudian tak berselang lama ada dua orang teman dengan terburu-buru meminjam kunci sepeda motorku. aku malah tambah bingung, "buat apa kunci sepeda motor?". sepertinya mereka tau apa yang ada dipikiranku. tanpa bertanya mereka telah menjawab. "beli buku tulis, pak na'im tu tugasnya pake buku tulis". katanya kental dengan logat sundanya.
"nah loh. tadi pelajaran siapa, bentar lagi siapa?". tanyaku masih dengan ekspresi blo'on
"tadi pak abad, terus habis ini pak na'im". tweweweng aku syok berkepanjangan. gimana gak syok coba, jamnya udah aku niatkan buat lari, eh malah didepan mata dengan nyali menciut menegakkan kepala membuka mata melihat bapak dosen yang berjalan dengan gagahnya.
didalam kelas duduk dikursi yang biasa aja terasa bagai duduk di kursi panas. padahal tidak panas sedikitpun. aku hanya berharap semoga pak Ngainun tidak kesleo lidah dan kemudian memanggil namaku.
walhasil tak ada sedikitpun yang nyantol diotak padahal mereka-mereka yang presentasi resumannya berbicara sangat jelas. ini karena memang aku yang takut, malu, was-was, kalau-kalau bapak dosen memanggil namaku aku harus ngomong apa?
semoga tidak akan terjadi di pertemuan selanjutnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar