Senin, 21 Maret 2016

Resume “MA’ALIM FI ATTARIQ”
            Islam sebenarnya adalah sebuah proklamasi pembebasan yang ditujukan kepada seluruh manusia dipenjuru bumi. Bukan hanya proklamasi pembebasan bangsa arab semata. Seseorang tidak disebut muslim apabila dia masih menjalankan praktek jahiliyah meski dia menyebut dirinya muslim. Sebenarnya Islam hadir dengan konsep-konsep yang sangat cemerlang, dia memunculkan konsep yang bersahabat, didalamnya mengentaskan perbudakan antar manusia, menegaskan bahwasannya tiada yang berhak ditakuti kecuali Allah semata. Membela kebenaran dengan berpegang teguh dalam ajaran Al-Qur’an. Al-Qur’an disini dijadikan sumber utama dan hanya Al-Qur’an-lah satu-satunya sumber yang benar.
            Dalam buku ini dijelaskan pula siapa sebenarnya Umat Islam (muslim). Orang-orang yang disebut muslim ialah sekelompok manusia yang kehidupan, konsepsi, sikap tatanan kehidupannya atau nilai kehidupannya dan seluruh pertimbangannya bersumber pada Al-Qur’an. Dalam hal ini, dia hanya berkiblat pada Al-Qur’an, seseorang tetkala menyatakan diri masuk Islam maka wajib baginya meninggalkan seluruh perbuatan yang mengandung unsur kejahiliyahan yang pernah dilakukannya semasa sebelum masuk Islam.
            Apa itu dan siapakah masyarakat jahiliyah itu? Dia adalah masyarakat selain masyarakat muslim. Namun, agaknya penjabaran ini terlihat sangat umum serta melebih-lebihkan kaum muslim. Padahal apabila itu hanya mengandung pengertian yang begitu dangkal. Ini menggambarkan seolah-olah orang muslim/ orang yang beragama Islam bersih dalam hal praktek kejahiliyahan. Namun, jika kita mendefinisikan apa jawaban dari pertanyaan diatas penulis menjelaskan, bahwa masyarakat jahiliyah secara obyektif. Ialah masyarakat yang tidak memurnikan penghambaan kepada Allah semata. Penghambaan ini terejawentahkan dalam konsepsi teologis, ritual-ritual, ibadah dan dalam peraturan perundang-undangan.
            Dengan definisi yang obyektif ini, maka kriteria yang masuk dalam masyarakat jahiliyah adalah seluruh manusia yang ada di muka bumi  ini. Kembali dijelaskan bahwasannya Islam datang dengan konsepsi yang sangat cemerlang. Dan Islam merupakan agama yang benar. Maka melihat situasi yang seperti ini (kaum yang menyimpang dari eksistensi sebenarnya), maka perlu diadakan review terhadap eksistensi Umat ini, agar Islam mampu menunaikan perannya dalam kepemimpinan manusia yang ditunggu-tunggu sekali lagi.
            Lantas bagaimana proses stimulasi ini akan dimulai? Harus ada sekelompok pionir yang membulatkan tekat ini, kemudian menindak lanjutinya dengan pengamalan, mereka terjun kedalam lautan kejahiliyahan yang memiliki network di seluruh penjuru bumi. Pionir-pionir ini harus dan dengan sadarnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pangkal atau satu-satunya sumber hukum. Menjadikan Al-Qur’an sebagai ahlaqnya dan Allah satu-satunya Tuhan yang wajib dan berhak disembah serta Allah-lah yang ditakuti.  
            Nah dari semua pemikiran yang tertulis itu dilatar belakangi oleh proses berfilsafatnya yang kemudian mengalami kebuntuan yang tidak berujung pada jawaban yang dimana tempatnya tinggal, aturan-aturan Negara serta hukum yang selama ini dia anut tidak dapat menjawab keinginannya. Bahkan belahan dunia barat yang dari dulu dianggap segala Negara termaju dan tercanggihpun tidak mampu memberikan jawaban atas pertanyaannya itu. Sehingga kemudian dia memurnikan kembali ajaran islam yang sebenarnya. Jika ditilik dari uraian bukunya, yang dinamakan memurnikan ialah mengembalikan kembali esensi yang sebenarnya atau makna sebenarnya suatu hal. Memurnikan adalah mengembalikan posisi awal kemunculannya tidak menambahkan dan juga tidak mengurangi.
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar